Read The Great
Gatsby
FREE.
Click Here

Try it FREE or V.I.P. Sign-up Now. It's Quick and Easy!

Free-Ebooks.net is the internet's #1 online source for free ebook downloads, resources and authors
SH Mintardja - Tanah Warisan
AWAN yang kelabu mengalir dihanyutkan oleh angin yang kencang ke Utara. Segumpal bayangan yang
kabur melintas di atas sebuah halaman rumah yang besar. Kemudian kembali sinar matahari memancar
seolah-olah menghanguskan tanaman yang liar di atas halaman yang luas itu.
Seorang perempuan tua berjalan tertatih menuruni tangga pendapa rumahnya. Kemudian memungut
beberapa batang kayu yang dijemurnya di halaman. Sekali-kali ia menggeliat sambil menekan
punggungnya.
Dengan telapak tangannya yang kisut dihapusnya keringat yang menitik di keningnya.
"Hem," perempuan itu berdesah.
"Kalau saja mereka masih ada di rumah ini." perempuan itu kini berdiri tegak. Ditengadahkan wajahnya
kelangit, dan dilihatnya matahari yang telah melampaui di atas kepalanya.
Tanpa sesadarnya diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Keningnya berkerut ketika dilihatnya
halaman rumahnya yang menjadi liar karena tidak terpelihara. Rumah besar yang kotor dan rusak.
Kandang yang kosong dan lumbung yang hampir roboh.
Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali ia membungkukkan punggungnya,
memungut beberapa batang kayu bakar yang dijemurnya di halaman. Ketika perempuan itu melihat
seseorang berjalan di lorong depan regol halamannya, maka ia mencoba menganggukkan kepalanya
sambil tersenyum.
Tetapi orang itu memalingkan wajahnya, dan berjalan semakin cepat.
"Hem," sekali lagi perempuan tua itu berdesah. Di pandanginya orang itu sampai hilang dibalik dinding
halaman rumah sebelah. Sejenak kemudian dengan langkah yang berat perempuan itu melangkah
masuk ke rumahnya yang kotor dan rusak, langsung pergi ke dapur.
Perlahan-lahan ia berjongkok di depan perapian. Sebuah belanga berisi air terpanggang di atas api.
Satu-satu dimasukannya batang-batang kayu bakar yang kering ke dalam lidah api yang menjilat-jilat.
"Kalau anak-anak itu ada di rumah," sekali lagi ia berdesah. Seleret kenangan meloncat ke masa
lampaunya. Kepada anak-anaknya. Dua orang anak laki-laki. Tetapi keduanya tidak ada disampingnya.
Tetapi perempuan tua itu mencoba menerima nasibnya dengan tabah. Kesulitan demi kesulitan,
penderitaan demi penderitaan lahir dan batin telah dilampauinya. Namun seolah-olah seperti sumber air
yang tidak kering-keringnya. Terus menerus datang silih berganti.
"Hukuman yang tidak ada habisnya," desahnya. Namun kemudian ia mencoba menempatkan dirinya
untuk menerima segalanya dengan ikhlas.
"Semua adalah akibat dari kesalahanku sendiri."
Perempuan itu tiba-tiba terkejut ketika ia mendengar langkah beberapa orang berlari-lari. Semakin lama
semakin dekat. Perlahan-lahan ia berdesis. "Apakah mereka datang lagi?"
Ia bangkit berdiri ketika langkah-langkah itu semakin banyak berderap di jalan dimuka regol halaman
bahkan ada di antaranya yang meloncat memotong melintasi halaman rumahnya.
"Tidak ada gunanya mereka berlari-lari," gumam perempuan tua itu sambil melangkah ke pintu. Ketika
kepalanya menjenguk keluar, dilihatnya beberapa orang yang terakhir melintas di bawah pohon-pohon
1

READ THIS BOOK AS

* For VIP Members Only. To access these formats usable with Kindle, Sony Reader, iPad and other readers, please upgrade


Do you like this book? yes no
LIKES (7)
DISLIKES (1)


Free-eBooks.net, Paradise Publishers Inc.